Ulil Abshar Imbau Umat Sementara Tak Sowan Kyai atau Ulama

Gus Ulil Abshar Abdalla mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk menghentikan sementara aktivitas sowan ke Kiai/Ulama. Hal ini diungkapkannya usai mendapat kabar duka dari beberapa ulama dan Kiai.

Pada postingan facebook-nya yang diunggah pada 18 September lalu, Gus Ulil, yang juga Cendekiawan Muslim Nahdlatul Ulama, merasa sangat kehilangan atas kepergian Nyai Hj. Nur Ishmah, istri Kiai Ulinnuha Arwani, yang juga pengasuh PP Yanbu’ul Quran Kudus. Keduanya sempat dirawat di sebuah rumah sakit di Semarang lantaran Covid-19.

Berita meninggalnya alim ulama akhir-akhir ini akibat Covid semakin menambah kesedihannya. Beliau menganjurkan kepada umat muslim untuk menunda sowan kepada kiai.

Umumnya, orang yang sowan masih muda sedangkan kiai sudah sepuh (baca: lanjut usia) sehingga rentan terhadap penyakit sebab sistem kekebalan tubuh menurun. Hal ini penting untuk diperhatikan bersama. Lebih baik menunda sowan demi kesehatan dan kebaikan kiai-kiai dari pada datang membawa penyakit.

“Jika kita benar-benar mencintai dan menyayangi para kiai dan masyayikh, maka sudah seharusnya wujud kecintaan kita itu adalah dalam bentuk menghentikan untuk sementara kegiatan sowan kepada beliau. Tunda sowan kiai sampai keadaan normal,” tulisnya dalam postingan Facebooknya.

Akan tetapi, apabila terpaksa harus sowan diusahakan menghindari cium tangan. Budaya yang satu ini memang familiar di kalangan pesantren sebagai bentuk penghormatan kepada kiai dan “ngalap berkah” yang artinya mengambil keberkahan dari orang yang dicium tangannya.

“Saya tahu, keinginan para santri mencium tangan kiai sangat besar, tetapi jika kita benar-benar menyayangi kiai, hentikan kegiatan mencium tangan kiai untuk sementara waktu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, mantan Ketua Lakpesdam PBNU ini mengingatkan kepada warganet supaya menghentikan kegiatan yang mengundang keramaian untuk sementara waktu.

Kegiatan pondok pesantren yang kembali normal, para santrinya harus disosialisasikan mengenai protokol kesehatan. Jika memungkinkan ruangan tidak diisi penuh agar ada jarak antar santri. Selain itu, tidak mengadakan acara pesantren yang mengundang banyak orang seperti akhirussanah untuk mencegah penularan virus.

Acara walimatul ‘ursy tetap dapat terlaksana tanpa mengundang banyak orang, termasuk keluaraga Kiai dan keluarga ndalem (baca: pengasuh pesantren). “Untuk tabarrukan, cukup diberikan kabar saja kepada beliau seraya meminta doa dan pangestu,” tambah menantu Gus Mus ini.

Pandemi masih belum selesai. Kondisi ini dapat semakin membaik atau sebaliknya. Hidup dalam wabah penyakit mengharuskan kita untuk selalu waspada dan patuh terhadap anjuran pemerintah. “Kita harus ikhtiar sebaik dan semampu mungkin untuk menghindarkan diri dari pandemi ini. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah,” harapnya mengakhiri. (fqh)

Ditulis: Alvina Maghfiroh (Mahsiswi Univ Diponegoro)

Sumber: DakwahNU.com

Total 33 x dibaca, hari ini 1 x

Jolali, Share ya !