Kemendikbud Bersinergi dengan LDNU Laksanakan PKMP di Keerom Papua

Bekerjasama dengan Kemendikbud, Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) melaksanakan program untuk mengejar mutu pendidikan di wilayah 3T (Terbelakang, Terluar, dan Tertinggal). Wilayah yang terpilih untuk LD PBNU adalah Kabupaten Keerom, Papua.

Disini lima sekolah dasar di tiga kecamatan di kabupaten Keerom, di antaranya; SDN Inpres I Arso I, SDN Inpres Arso VI, dan SDN Inpres Arso VIII di Kecamatan Arso Barat; SDN Inpres PIR II Arso di kecamatan Arso; dan SDN Inpres Ampas di Kecamatan Waris.

Pada hari ke-26, Selasa 22 Desember 2020, Tim fasilitator menerima kunjungan dari Kemendikbud dalam rangka monitoring dan evaluasi (monev) program kejar mutu pendidikan (PKMP) yang diwakili oleh Saifuddin Asrori, M.Si.

Kehadirannya untuk meninjau dan menerima laporan awal selama kegiatan program kejar mutu pendidikan di Keerom, Papua berlangsung.

Momentum ini dimaksimalkan tim fasilitator untuk menggelar kegiatan konsolidasi dan tatap muka di Kantor dinas pendidikan kabupaten Keerom Papua bersama kepala sekolah yang terpilih dalam program kejar mutu pendidikan. Hadir juga kepala seksi GTK kabupaten Keerom Papua Oktofina Uryagir, acara ini dipandu oleh kepala bidang sekolah dasar dinas pendidikan kabupaten Keerom Papua, Muchsin Wibowo.

Pada kesempatan ini, Muchsin Wibowo mengucapkan terima kasih kepada tim fasilitator yang sudah menjalankan  Program Kejar Mutu Pendidikan walaupun dengan keadaan waktu yang sangat terbatas.

“Mudah mudahan apa yang bapak bapak lakukan di kabupaten keerom dapat bermanfaat,” ujarnya mengawali sambutan.

Ia mengaku sangat bersyukur karena mendapatkan program yang sangat bermanfaat bagi kami di wilayah keerom, di wilayah 3T. Selanjutnya, katanya, semoga dengan apa yang dilakukan tim fasilitator pusat dan fasilitator lokal di lima sekolah dapat ditularkan ke sekolah sekolah lain.

Lebih lanjut ia bercerita mengenai keadaan sekolah di wilayah Keerom, Papua. Membandingkan dengan sekolah di ibu kota, ia menilai sekolah di Keerom sangat berbeda dari pada di kota. Sebab banyak orang tua siswa siswi yang bekerja sebagai petani kebun dan ladang.

Oleh karena itu di masa pandemi ini banyak anak anak yang kesulitan belajar dari rumah (BDR). Dengan program kejar mutu ini ia berharap anak anak terbantu dalam pembelajaran dan dapat meringankan beban orang tua.

“Saya pikir itu saja yang dapat saya ssampaikan, dan saya sampaikan mohon maaf sebesarnya kepada tim dari pusat dan lokal karena kurangnya perhatian kami dalam pelaksanaan,” katanya mengakhiri

Pada kesempatan yang sama, Abdus Saleh Radai, Ketua tim fasilitator mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua kepala sekolah yang terpilih di Kabupaten Keerom Papua dan juga mengucapkan terima kasih kepada rekan rekan fasilitator wilayah yang juga Kiai.

Selain berterima kasih, Abdus juga mengucapkan mohon maaf sebab program kejar mutu pendidikan ini banyak menyita waktu libur.

Abdus melaporkan kepada Saifuddin Asrori selaku perwakilan kemendikbud dan juga kabid sekolah dasar dinas pendidikan bahwa kegiatan program kejar mutu pendidikan dengan penguatan implementasi modul dan pendampingan psikososial sudah terlaksana.

Abdus juga menyampaikan bahwa di setiap sekolah yang terpilih tim fasilitator selalu hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan.

“Kegiatan ini sudah didokumentasikan semuanya baik melalui catatan catatan, narasi, foto, video, tinggal nanti dibawa oleh tim monev. Saya berterima kasih karena sesuai arahan pak kabid, semua pengawas membantu terutama pengawas gugus satu pak purwi yang ikut sampai ke semua sekolah,” jelas Abdus yang juga pengurus Lembaga Dakwah PBNU ini.

Menurutnya, pengawas hadir karena sebagaimana arahan kadis bahwa kegiatan ini tidak berhenti di lima sekolah terpilih saja, harus menularkan ke sekolah sekolah lain. Paling tidak pengawas mengarahkan sekolah sekolah lain untuk menyontoh dari sekolah sekolah yang sudah menerima program kejar mutu pendidikan ini.

“PR saya dan tim untuk sekolah belum selesai, bukunya masih dalam perjalanan belum mendarat, saat semalam dikonfirmasi masih di perjalanan. Kita tunggu, sebenarnya tugas kita sudah selesai di Keerom, tapi tetap komitmen kita adalah buku sampai sekolah. Jadi nanti kita akan ketemu lagi sekali lagi di setiap sekolah sekolah untuk memberikan buku,” terang Abdus kepada kepala sekolah yang hadir.

Abdus juga berterima kasih kepala sekolah yang telah menyiapkan segala kebutuhan untuk pelaksanaan program kejar mutu pendidikan di tiap tiap sekolahnya. Ia meminta fasilitator wilayah yang juga Ketua PCNU Kab Keerom, Kiai Dimyati untuk memimpin doa khusus untuk para hadirin dan juga Kadis yang sedang terpapar Covid-19.

“Terima kasih juga kepada fasilitator lokal, karena di tengah kesibukannya mau meluangkan waktunya untuk menyukseskan kegiatan ini. Padahal tupoksinya (tugas pokok dan fungsi) beda, para kiai (fasilitator wilayah) ini tugasnya di kemenag, tapi karena komitmen untuk pendidikan di Keerom kita sudah sowan juga ke Kemenag, minta izin SDMnya kita manfaatkan untuk membantu di Sekolah Dasar, walaupun tugas mereka di MI dan sekolah sekolah Islam,” jelasnya mengakhiri.

Usai menerima berbagai macam laporan, Saifuddin Asrori perwakilan tim monitoring dan evaluasi (monev) Kemendikbud RI menjelaskan bahwa dampak pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan kekuatan komunitas. Ia juga menjelaskan bahwa kekuatan komunitas menjadi latar belakang terlaksananya kegiatan prgoram kejar mutu dengan pendampingan psikososial pada kali ini.

“Karena sifat kegiatannya ini adalah komunitas, dan itu intervensi sosial, maka kegiatan inikan sebenarnya kegiatan sehari hari yang dilakukan pak kiai dan ustadz, karena mereka setiap hari bergaul dengan masyarakat. Kami sendiri ga terlalu ngerti bagaimana itu intervensi sosial itu ya memang kegiatannya ustadz, kiai, pendeta, dan sebagainya, itu kegiatan hariannya,” katanya yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Sebagai informasi Intervensi sosial yang dimaksud dapat diartikan sebagai sebagai cara atau strategi memberikan bantuan kepada masyarakat. Intervensi sosial merupakan metode yang digunakan dalam praktik di lapangan pada bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial. Hal ini dalam rangka menyejahterakan masyarakat dengan pendekatan kemasyarakatan.

“Jadi ketika dampak pandemi ada, itu yang perlu digerakkan itu adalah kekuatan kekuatan sosial, kekuatan kekuatan komunitas, intervensi intervensi sosial, itu yang yang menurut kami perlu digerakan,” ujarnya

Mengapa hanya lima sekolah yang terpilih, ia menjelaskan karena keterbatasan anggaran. Padahal menurut penuturannya kemendikbud menginginkan semua sekolah di wilayah 3T yang dapat program kejar mutu pendidikan ini. Namun karena ada keterbatasan anggaran, maka hanya dipilih beberapa sekolah saja pada kali ini.

Kegiatan itu dimodelkan menjadi sekolah sekolah yang lebih baik. Lima sekolah yang terpilih menjadi sekolah penggerak pada akhirnya biar bisa menularkan semangat. “Makanya hari ini berat, sekolah online, jarak jauh, kita sudah ga deket dengan guru, kan kondisi hariannya kalau ga deket dengan guru kondisinya tidak akan sepatut dulu,” imbuhnya menerangkan.

“Kalau sekarang sulit, sudah sangat longgar, dan saat ini anak anak lebih dekat dan sering dengan handphone bahkan mereka tidak percaya dengan buku pelajaran sekolah, anak anak lebih percaya dengan google. Hanya lebih longgar dan ini hanya bisa didekatkan (intervensi sosial) dengan lembaga lembaga seperti Nahdlatul Ulama ini, Lembaga Dakwah PBNU,” jelasnya lebih lanjut.

Rasionalisasi Kemendikbud seperti itu, tidak ada cara lain. Makanya kemendikbud memberdayakan dan meminta bantuan Lembaga Dakwah PBNU ini untuk mengintervensi, mudah mudahan, ujarnya, dengan intervensi sosial dapat memberikan dampak yang positif terhadap pendidikan di Keerom ini.

Berbicara pendidikan menurutnya sulit,

“Saya respect kepada bapak bapak, ibu ibu yang mau jihad, berusaha sungguh sungguh memajukan pendidikan di wilayah keerom ini. Dengan segala macam kekurangan, kalau dari data, tingkat partisipasi droped outnya siswa dari Papua ini kebanyakan dari absennya para guru yang sering absen. Jadi guru jarang masuk yang berakibat droped outnya siswa yang ada di Papua. Saya respect betul terhadap bapak ibu semua mau hadir semua ke sini dengan segala keterbatasan yang ada,” tuturnya dengan kagum.

“Walapun pada akhirnya pendidikan adalah tanggung jawab negara, kita sama sama menjalankan program kegiatan ini, ke depan semoga program ini bisa membuat sekolah sekolah penggerak yang lebih banyak sehingga dapat memajkan pendidikan di wilayah papua,” tandasnya mengakhiri. Berikut ini  Berikut ini foto-foto pelaksanaan monitoring dan evaluasi di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom Papua.(jannah/fqh/dakwahnu.id)

Total 77 x dibaca, hari ini 1 x

Jolali, Share ya !