Gus Nadir: Saat ini Para Da’i NU Harus Menjelaskan 5 Tantangan Ini

Gus Nadir, Rais Syuriah PCINU New Zealand-Australia, yang bernama lengkap Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A.,  menyampaikan lima topik penting yang menjadi tantangan bagi dai NU dalam acara Penguatan Kapasitas Dai Aswaja an-Nahdliyah Tahun 2020, yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul (PWNU) Jawa Barat secara virtual.

Hal ini disampaikan Gus Nadir untuk mewanti-wanti para dai NU agar tidak safety player (main aman) dalam kondisi keagamaan seperti saat ini, serta harus mulai merespon topik-topik khusus yang banyak dibahas oleh masyarakat.

“Jadi kita tidak bisa lagi bermain aman, kita harus masuk sekarang, sangat penting.  Nah sekarang ini, terjadi pencibiran, saya kira kita ini selalu ngomong iman dan takwa kita selalu ngomong Islam rahmatan lil alamin, itu tema-tema umum. Sementara yang sekarang yang terjadi di masyarakat narasi-narasi itu sudah menukik pada tema-tema khusus, dan itu membutuhkan respon dari kita semua,” jelas Gus Nadir.

Tema yang pertama, lanjut Gus Nadir adalah relasi Islam dan negara. PBNU sudah banyak sekali bicara soal ini, keputusan Muktamar dan Munas juga sudah banyak bicara relasi islam dan agama. Ini bisa jadi patokan untuk dai agar bicara kepada umat secara apa adanya, dengan rujukan Islam.

Beliau mencontohkan, mengapa misalnya NKRI harga mati. Menurutnya, jargon itu tidak cukup jika dipahami dari aspek kebangsaan saja. Perlu ada argumen-argumen dan narasi.

Kedua adalah relasi Islam dan non muslim. Saat ini juga tema yang mau tidak mau umat tidak bisa lagi mengelak. Kita tidak bisa lagi menghindari, kita tidak lagi bisa bermain aman. Ini tema yang harus kita jelaskan kepada umat, relasi islam dan non muslim. Di mana secara akidah kita tetap bertahan tapi dalam wilayah muamalah, misalnya terjadi fleksibilitas atau aplikasi Islam. “Ini yang harus kita jelaskan lebih jauh kepada umat,” tuturnya.

Ketiga, relasi islam dan budaya. Kita tahu bahwa Islam dan Nusantara diserang habis-habisan dengan narasi-narasi salah paham. Tetapi bahwa ada semacam perasaan sekarang kita ini kalah secara budaya dengan orang-orang barat dengan orang-orang kafir. Ketika kemudian kita merangkul budaya mereka rasa-rasanya umat ini menjadi goyah.

Bahkan hanya dengan satu hadist saja, misalnya “Barang siapa menyerupai satu kaum maka kalian menjadi seperti mereka”. Gus Nadir menyebutkan bahwa sudah banyak hal berbau budaya yang dikafirkan hanya dengan satu hadist saja.

“Karena itu perlu Islam dan budaya ini dimasuki lagi oleh para dai kita. Untuk dijelaskan bagaimana maksud hadist itu apa konteksnya budaya mana yang bisa kita pakai. Gunakan kaidah ushul fiqh, gunakan kaidah tafsir untuk menjelaskan topik Islam dan budaya ini,” ungkapnya.

Keempat adalah relasi islam dan ketimpangan sosial. Guru kita, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. Said Aqil Siroj dalam beberapa kesempatan sudah keras berbicara soal ketimpangan sosial ini. Nah para dai kita ini juga harus merespon masalah-masalah Islam dan ketimpangan sosial. Karena ini hal juga yang dialami oleh masyarakat yang ada di bawah saat ini.

Bagaimana misalnya terjadi ketimpangan sosial, terjadi tebang pilih penegakan hukum, terjadi kemudian ketidakadilan. Nah ini harus direspon dengan baik. Kita tidak bisa lagi menghindari kita hanya sibuk untuk bicara hal-hal ritual NU saja, seperti qunut, tarawih ada 23 dan seterusnya. Itu bisa dijelaskan tapi jangan hanya itu.

Kelima adalah relasi islam dan pemikiran. Ini sebetulnya gudangnya di NU pemikiran keislaman, khazanah kita luar biasa. Ini juga harus kita jelaskan bagaimana keindahan perbedaan pendapat dalam kitab tafsir, dalam kitab hadist, dalam kitab fikih, agar umat ini tidak kagetan dan kemudian merasa bahwa dia itu benar. Maka perlu contoh-contoh bagaimana ulama biasa berbeda pendapat.

“Jangan kita hindari masalah fiqh muqaran ini. Kita sudah harus masuk menjelaskan kepada umat. Nah itu lima topik yang saya kira sangat penting untuk para dai merespon. Dalam percitraan global untuk menunjukkan bahwa kita adalah umatan yang tadi,” pesan Gus Nadir.

Umatan Wasathon
Dalam kesempatan tersebut, Gus Nadir juga mengatakan bahwa kita juga harus tahu ada modus atau metode saudara-saudara kita yang ingin membenturkan tema-tema Islam rahmatan lil alamin, yang kemudian membuat umat di bawah bingung. Menurut beliau dua metode yang sering digunakan kelompok tersebut adalah dengan membenturkan ayat dan memainkan kisah sahabat nabi.

Pertama adalah membenturkan ayat. Ayat-ayat yang menunjukkan Nabi ramah tamah, Nabi itu ternyata lakum dinukum waliyadin bertoleransi kepada berbeda. Mereka kemudian mengatakan bahwa ratusan ayat-ayat tentang dakwah kesabaran, lemah lembut, seperti mauidhoh khasanah, itu semua sudah dinasakh (hapus).

Jadi dengan satu ayat saja, mereka bilang ratusan ayat dakwah sudah dinasakh. Nah ini para dai kita harus berada. Problematika kenapa ayat itu dinasakh. Bagaimana pendapat para ulama  dan kontroversi seputar itu dengan perbedaan-perbedaannya,” terang Gus Nadir.

Menurutnya, problematika seperti ini tentu membuat umat bingung. “Nah ini menjadi persoalan karena oleh masyarakat di bawah, jualan ini akan dibeli dengan mudah,” jelasnya.

Modus yang terakhir adalah yaitu memenggal kisah sahabat nabi, fragmen kisah sahabat nabi itu dipenggal ceritanya untuk menjustifikasi tindakan kekerasan.

Sempat beredar dulu masalah riwayat sahabat Nabi Abi Sarah. Abi sarah ini bukan sahabat yang terkenal, saya pun harus buka kitab untuk mencari kebenarannya. Katanya Abi Sarah ini melecehkan wahyu, melecehkan Qur’an. Tadinya dia adalah salah satu penulis wahyu, kemudian dia menjadi murtad. Kemudian Nabi mengeksekusi dia sebelum Fathu Makkah.

“Jadi mereka mengatakan bahwa orang-orang yang melecehkan Qur’an, menghina agama Islam ini harus dibunuh sesuai dengan kisah tadi. Ternyata setelah saya lacak lebih jauh, kisah Abi Sarah ini ternyata dipenggal, dipotong ceritanya,” ungkapnya.

Artinya memang ada orang-orang pintar di kalangan mereka yang senang sekali memproduksi cerita-cerita dan memenggalnya untuk kepentingan mereka. Mereka itu bukan orang bodoh, mereka tahu, tapi sengaja dipenggal kisahnya. Nah ini menjadi tantangan buat kita.

Melihat hal-hal tersebut, Gus Nadir berpesan kepada para da’i NU agar selalu bisa memahami modus kelompok-kelompok tersebut, sehingga umat dapat terjaga dengan paham wasathiyah.

Maka di sinilah pentingnya para dai NU dengan umatan wasathiyah tadi, masuk pada topik-topik seperti ini, memahami modus mereka, agar kemudian umat ini bisa kita jaga. Agar umat ini tetap dalam koridor umatan wasathon, sehingga kita tetap dalam kategori umat terbaik,” pungkasnya. (Jannah/dakwahnu.id)

Total 328 x dibaca, hari ini 1 x

Jolali, Share ya !