Cara Menghitung Pembagian Harta Warisan Menurut Islam

Al-Qur’an membahas tentang banyak hal tentang hidup manusia, salah satunya adalah pembagian harta waris yang benar.

Banyak orang merasa kebingungan untuk membagikan warisan kepada keluarga mereka karena pembagiannya yang rumit. Namun, ternyata dalam Islam pembagian warisan cukup jelas karena setiap orang memiliki bagiannya tersendiri.

Pembagian warisan yang benar akan membuat setiap orang mendapatkan warisan mereka secara adil. Bagaimana cara membagi harta warisan secara adil menurut Islam?  Simak pembahasannya di bawah ini!

Langkah Menghitung Harta Warisan dalam Islam

Sebelum mengetahui pembagian warisan, kamu harus tahu terlebih dahulu istilah-istilah yang sering digunakan dalam membagi warisan.

Beberapa istilah tersebut di antaranya adalah:

  • Asal Masalah atau kelipatan persekutuan terkecil yang dihasilkan dari semua bilangan penyebut;
  • Adadur Ru’us atau bilangan kepala;
  • Siham atau nilai yang dihasilkan dari perkalian antara Asal Masalah dan bagian pasti seorang ahli waris;
  • Majmu’ Siham atau jumlah keseluruhan siham.

Setelah mengetahui istilah tersebut, kemudian kamu dapat memahami langkah-langkah menghitung pembagian warisan, yaitu:

  • Menentukan ahli waris yang ada dan berhak untuk mendapatkan harta warisan;
  • Menentukan bagian masing-masing ahli waris;
  • Menentukan Asal Masalah;
  • Menentukan Siham.

Pembagian Harta Warisan yang Benar

Pengertian Warisan Menurut Islam

Menurut hukum islam, pembagian harta warisan dibagi berdasarkan dengan masing-masing ahli waris yang sudah ditetapkan besarannya.

Namun, warisan juga dapat dibagi berdasarkan dengan wasiat seseorang. Wasiat hanya diperbolehkan memberi sepertiga dari harta warisan kecuali jika semua ahli waris setuju untuk memberikan seluruh harta warisan.

Sementara itu, ahli waris menurut islam adalah orang yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris dan tidak terhalang hukum untuk menjadi ahli pewaris.

Kelompok-kelompok ahli waris menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) terdiri dari:

  • Menurut hubungan darah: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, kakek, ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan nenek.
  • Menurut hubungan perkawinan terdiri dari duda atau janda.

Besaran Bagian Ahli Waris

  • Anak perempuan yang hanya seorang akan mendapatkan setengah bagian, bila 2 orang atau lebih maka bersama-sama mendapatkan 2/3 bagian, bila bersama dengan anak laki-laki maka anak laki-laki mendapatkan 2:1 dengan anak perempuan.
  • Ayah mendapatkan 1/3 bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak maka ayah mendapatkan 1/6.
  • Ibu mendapatkan 1/6 bagian bila ada anak atau 2 saudara atau lebih. Bila tidak ada, maka ibu mendapatkan 1/3 bagian.
  • Ibu mendapatkan 1/3 bagian dari sisa sesudah diambil janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.
  • Duda mendapatkan ½ bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila meninggalkan anak maka duda mendapatkan ¼.
  • Janda mendapatkan ¼ bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila meninggalkan anak maka janda mendapatkan 1/8.
  • Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan perempuan seibu masing-masing mendapatkan 1/6 bagian. Bila mereka 2 orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapatkan 1/3 bagian.
  • Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedangkan dirinya memiliki saudara kandung seayah, maka ia mendapatkan ½ bagian. Bila mereka 2 orang atau lebih maka bersama-sama mendapatkan 2/3 bagian. Bila mereka memiliki saudara laki-laki seayah maka bagian saudara laki-laki adalah 2:1 dengan saudara perempuan.

Pembagian Kelompok Ahli Waris

1. Dzulfaraidh

Dzulfaraidh adalah ahli waris yang menerima bagian pasti, yaitu ayah, ibu, janda, dan duda.

Artinya, bagian untuk ahli waris ini dikeluarkan terlebih dahulu dalam perhitungan pembagian warisan.

2. Dzulqarabat

Dzulqarabat adalah ahli waris yang mendapatkan bagian tidak tentu.

Mereka memperoleh warisan sisa setelah bagian ahli waris dzulfaraidh telah dikeluarkan.

Kelompok ini berisi anak perempuan dan laki-laki dari pewaris.

3. Dzul-arham

Dzul-arham adalah kerabat jauh atau orang yang menerima warisan jika kelompok dzulfaraidh dan dzulqarabat tidak ada.

Yang tergolong kelompok ini adalah:

  • Cucu laki-laki dan perempuan dari anak perempuan;
  • Anak laki-laki dan perempuan dari cucu perempuan;
  • Kakek dari pihak ibu dan nenek dari pihak kakek;
  • Anak perempuan dari saudara laki-laki (sekandung, sebapak, atau seibu);
  • Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu;
  • Anak saudara perempuan sekandung, sebapak, dan seibu;
  • Saudara perempuan bapak dan saudara perempuan kakek;
  • Saudara laki-laki seibu dengan bapak dan saudara laki-laki seibu dengan kakek;
  • Saudara laki-laki dan perempuan dari ibu; dan
  • Anak perempuan paman dan bibi dari pihak ibu.

Cara Menghitung Pembagian Hara Warisan

Contoh Pembagian Harta Warisan Jika Suami Meninggal

Sebagai contoh, seseorang meninggalkan warisan pada ayah, ibu, istri, dan 3 anaknya (1 anak laki-laki dan 2 anak perempuan).

Pembagiannya adalah ayah dan ibu mendapatkan 1/6 karena pewaris memiliki anak, sedangkan istri mendapatkan 1/8.

Sisanya akan diberikan pada anak-anaknya dengan sistem pembagian anak laki-laki mendapatkan 2 kali lebih besar daripada anak perempuan dengan perbandingan 2:1.

Contoh Pembagian Harta Warisan Jika Ayah Meninggal

Seorang ayah meninggal dunia dan meninggalkan warisan pada 3 orang anak laki-laki.

Maka pembagiannya adalah tiap anak mendapatkan 1/3 warisan ayah, atau warisan ayah dibagi menjadi 3 kemudian ketiga bagian tersebut dibagikan.

Contoh Pembagian Harta Warisan Jika Ibu Meninggal

Seorang ibu meninggal dunia dengan ahli waris seorang suami, seorang ibu, dan seorang anak laki-laki.

Pembagian harta warisnya berarti suami akan mendapatkan 1/4 bagian, ibu akan mendapatkan 1/6 bagian, sedangkan anak laki-laki akan mendapatkan sisa dari warisan tersebut.

Sumber: 99.co

Total 815 x dibaca, hari ini 2 x

Jolali, Share ya !