Bagaiaman Hukum Yasinan atau Tahlilan Setelah Orang Meninggal?

Sebenarnya sejarah mengenai tahlilan dan yasinan mulai ada sejak zaman Walisongo di tanah jawa. Pada waktu itu masyarakat Hindu/Budha mempunyai kebiasaan melakukan ritual 7 hari setelah orang meninggal seperti melakukan perjudian, mabuk mabukan, dan berpesta di rumah orang yg meninggal.

Karena memang ketika itu ajaran Hindhu/Budha sangat mengakar di tanah Jawa dan tidak mungkin untuk mengubahnya secara seketika.

Melihat hal itu, Walisongo mengubah kebiasaan masyarakat tersebut sedikit demi sedikit; 7 hari yang biasanya diisi dengan kemaksiatan diganti dengan pembacaan surat yasin dan tahlil.

Mengenai hukumnya, dalam Islam memang tidak ada dalil yang mengajarkannya, bahkan sejak zaman Nabi. Bahkan tradisi tahlil yasin ini merupakan satu satunya tradisi yg ada di indonesia.

Namun demikian, meski Nabi tidak pernah mengajarkan tahlil yasin, bukan berarti hal itu adalah bentuk kesyirikan. Karena di dalam tahlil dan yasin ada dzikir dan ayat ayat al quran dan membaca dzikir dan ayat al quran pada orang yg meninggal itu hukumnya boleh dan sampai pada si almarhum, sebagaimana hadits:

عَنْ سَيِّدِنَا مَعْقَلْ بِنْ يَسَارْ رَضِيَ الله عَنْهُ اَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : يس قَلْبُ اْلقُرْانْ لاَ يَقرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ وَالدَّارَ اْلاَخِرَة اِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ اِقْرَؤُهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ )رَوَاهُ اَبُوْ دَاوُدْ, اِبْنُ مَاجَهْ, اَلنِّسَائِى, اَحْمَدْ, اَلْحَكِيْم, اَلْبَغَوِىْ, اِبْنُ اَبِىْ شَيْبَةْ, اَلطَّبْرَانِىْ, اَلْبَيْهَقِىْ, وَابْنُ حِبَانْ

Dari sahabat Ma’qal bin Yasar r.a. bahwa Rasulallah s.a.w. bersabda : surat Yasin adalah pokok dari al-Qur’an, tidak dibaca oleh seseorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosa-dosanya. Bacakanlah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (H.R. Abu Dawud, dll)

Kedua duanya (tahlil dan yasin) memang adalah hal yg bid’ah, dimana hal itu memang tak pernah diajarkan di zaman nabi. Namun perlu di ketahui bahwa bid’ah ada dua, yaitu bid’ah sayyi’ah (buruk) dan bid’ah hasanah (baik). Dan membaca yasin atau tahlil masuk dalam bid’ah hasanah.

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar, seperti adzan dua kali ketika shalat jum’at, sholat tarawih berjama’ah dan lain sebagainya, dimana hal itu tidak pernah di lakukan di zaman Nabi. Namun masuk pada bid’ah yg baik pengamalannya.

Silahkan baca penjelasan lebih lanjut disini

Total 88 x dibaca, hari ini 1 x

Jolali, Share ya !